Serba - Serbi Perkutut

Back Cross Untuk Menciptakan Suatu Galur

Administrator | Sabtu, 10 April 2010 - 22:21:38 WIB | dibaca: 14636 pembaca

BACK CROSS UNTUK MENCIPTAKAN SUATU GALUR ATAU STRAIN

Pengertian

Galur atau Strain adalah satu garis keturunan yang memiliki sifat-sifat khusus yang ingin dipertahankan dapat diciptakan dengan menggunakan tehnik seleksi dan back cross, sehingga menjadi ciri khas dari garis keturunan sepasang perkutut.

Back cross atau penyilangan kembali ini adalah salah satu tehnik penyilangan dalam ilmu beternak dimana persilangan dilakukan antara tetua (parents) dengan anak-anaknya. Yaitu antara Bapak dengan anak-anak betinanya dan Ibu dengan anak-anak jantannya dan seterusnya.

 

Maksud dan tujuan

Maksud dan tujuan dari cara back cross ini adalah untuk membuat ciri khas pada sebuah peternakan dengan membuat galur atau strain yang mempunyai kualitas atau standar tertentu, misalkan suaranya yang rata-rata suara depannya nyelep dan iramanya senggang serta bersuara besar dan lain-lain. Sehingga dengan mudah dapat menjadi tanda dari sebuah peternakan dan bahkan sebagai kebanggaannya apabila hasil produk perkututnya menghasilkan perkutut-perkutut yang bersuara indah dan menjadi juara dalam suatu lomba.

 

Metodenya

Suatu keharusan dalam tehnik ini adalah bahwa pasangan awal untuk memulai bukan merupakan pasangan sedarah ( adik/kakak atau sekandang ).

Pasangan perkutut ini harus merupakan perkutut pilihan yang keduanya mempunyai suara yang bagus, setidaknya masing-masing jantan dan betinanya mempunyai kelebihan suara masing-masing. Disamping perlunya kita ketahui silsilah pasangan tersebut untuk mengetahui dengan pasti bahwa pasangan tersebut memang merupakan keturunan dari perkutut unggul dimana moyangnya pernah menjadi juara dalam kelasnya. Dengan cara back cross ini kita ingin mempersatukan secara maksimal gen-gen dari tetua yang bagus tersebut menjadi satu keturunan yang bagus dan merata.

Penciptaan galur ini memakan waktu cukup lama ( beberapa tahun ), karena memerlukan penyilangan antara beberapa generasi, menunggu generasi yang dilahirkan dari persilangan tersebut menjadi dewasa kelamin untuk dapat disilangkan kembali. Sehingga usaha ini sangat dibutuhkan ketekunan, ketelitian dan kesabaran ( Lihat penjelasan dibawah berikut ini ).

Tahun Ke-1

Bapak/Jantan (A)      x          Ibu/Betina (B)

Menghasilkan anakan  (F1) =  Jantan        :           C dan D,  Betina  :    E,  F dan G

 

Tahun Ke-2

Dilakukan perkawinan Silang :

Bapak/Jantan (A)      x          Anak/Betina (E), (F) atau (G)

Menghasilkan anak (F2) = AE, AF dan AG ( Jantan atau Betina )

 

Ibu/Betina (B)            x          Anak/Jantan (C) atau (D)

Menghasilkan anak (F2) = CB dan DB ( Jantan atau Betina )

 

 Tahun Ke-3

Dilakukan perkawinan Silang antara anak-anak (F2)  :

  • AE      x          CB      ->         AECB
  • AE      x          DB      ->         AEDB, dst. sebagai F3.

 

  • CB      x          AE      ->         CBAE
  • CB      x          AF       ->         CBAF
  • CB      x          AG      ->         CBAG, dst. sebagai F3.

 

Tahun Ke-4

Dilakukan perkawinan Silang antara anak-anak (F3) :

·         AEDB       x          CBAG            ->        ABCDEG, dst. sebagai F4.

 

Pada tahun ke-4 diharapkan sifat-sifat Bapak dan Ibunya sudah ada pada anak-anak (F4) tersebut yang menjadi Galur atau Strain BF kita.

 

Kelebihan dan kekurangannya.

Persilangan sedarah (konsanguinitas) antara saudara sekandang atau satu generasi, antara Ibu dengan anak jantannya, atau saudara sepupunya, dlsb., biasanya dilakukan untuk mendapatkan generasi kedua (F2) atau untuk mempertahankan mutasi genetis yang dianggap unggul, termasuk dalam usaha pembuatan galur. Walaupun tehnik ini tidak selalu menguntungkan, tetapi kadang-kadang sangat diperlukan untuk maksud tertentu tersebut.

Persilangan sedarah diharapkan dapat menyatukan (unifikasi) kualitas-kualitas yang baik yang terpencar pada beberapa individu anakan hasil persilangan. Akan tetapi bersamaan dengan ini juga akan terjadi unifikasi defek-defek atau kelemahan-kelemahan yag tadinya tidak terlalu berpengaruh atau tidak terlihat nyata. Suatu kelemahan bawaan yang dinyatakan dengan pertumbuhan lambat pada piyik, kemungkinan besar akan lebih nyata terlihat atau akan muncul oleh konsanguinitas ( perkawinan sedarah ) ini.

Defek atau kelemahan genetis merupakan sifat yang berasal dari genetis abnormal yang dapat diturunkan ke generasi berikutnya sejalan dengan kaidah-kaidah genetika. Sifat ini dapat dominan atau resesif, bebas ataupun terikat pada seks ( sex-link). Defek dominan akan terus terlihat pada satu garis keturunan.

Sedangkan defek resesif yang terikat pada seks misalnya bila dipunyai oleh betina, ia akan meloncat satu generasi dan genes pembawa sifat itu hanya dipunyai oleh salah satu dari cucu betinanya. Jadi defek resesif tadi tidak akan selalu muncul pada setiap generasi.

Sebagian besar dari kelemahan, bebas maupun resesif dapat dihindarkan dengan cara antara lain dengan mendatangkan darah baru atau dengan kata lain dihindari sedapat mungkin adanya persilangan sedarah.

Bila persilangan sedarah tidak dapat dihindari lagi atau diperlukan untuk satu tujuan tertentu, maka tehnik “ back cross “ ini lebih diprioritaskan dari pada persilangan dalam satu generasi. Pada penciptaan galur dengan tehnik yang diawali dengan satu pasangan seperti telah diuraikan sebelumnya, kaidah prioritas inilah yang dipakai.

Dalam suatu peternakan, konsanguinitas tidak akan dilakukan bila tidak sangat diperlukan, karena langkah ini akan menyebabkan de-generasi sifat-sifat genetis setelah beberapa generasi. De-generasi ini akan dimanifestasikan atau muncul dalam bentuk penurunan kesuburan atau daya tetas telur, pengecilan ukuran tubuh, penurunan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit dan lain-lain.

 

Peningkatan mutu galur dan darah baru.

Untuk meningkatkan mutu suatu galur yang telah dipunyai, biasanya peternak memasukkan seekor “ darah baru “ yang mempunyai sifat-sifat yang menarik. Misalkan telur lebih besar, postur lebih menarik, anggungan suaranya lebihs serasi, atau berasal dari perkutut jawara yang diharapkan lebih baik dari galur yang ada.

Individu pendatang ini pertama-tama harus disilangkan dengan bibit awal, baru kemudian anakannya disilangkan dengan perkutut yang telah menjadi anggota dari galur tersebut.

Penyilangan dengan individu yang benar-benar berasal dari luar galur ini dimaksudkan untuk menghilangkan setidaknya mengurangi defek-defek sebagai akibat persilangan sedarah. Dalam praktek sehari-hari, hampir semua peternak yang berpengalaman selalu memasukkan beberapa darah baru kedalam peternakannya setiap tahunnya.

Ia akan memilih darah baru tersebut dengan penuh perhitungan dan yang lebih penting lagi, ia akan selalu memantau hasil kinerjanya dengan penuh perhatian dengan melakukan pencatatan yang akurat tentang ukuran, warna bulu, keserasian suara dan lain-lainnya.

 










Komentar Via Website : 1712
Pengobatan Usus Buntu Paling Ampuh
04 Maret 2017 - 11:35:25 WIB
Situs yang bagus dan sangat menarik, kunjungi juga website kami >> https://goo.gl/HEtMps || http://goo.gl/fT3IhT || http://goo.gl/RyzF05 || https://goo.gl/ec14TD |
Awal Kembali...170171172 LanjutAkhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)